Rabu, 24 April 2013

MISTERI PERADABAN NUSANTARA YANG TAK TERJAWAB


Quetzalcoatl: sejenis makluk dari tamadun Maya berbentuk Naga yang bersayap. Tahukan anda yang Naga Melayu juga bersayap?
 

Tahukah anda bahawa tamadun Melayu Nusantara (Austronesia) menyimpan rahsia khazanah dunia yang masih tidak terungkai hingga sekarang? Bagi yang sering membaca ATBM tulisan Srikandi pasti sudah mengerti serba sedikit tentang perkara ini. Bagi yang baru menyelami alam sejarah purba umat Melayu dan konspirasi sudah tentu menggaru-garu kepala lutut...:). Ramai para pengkaji khususnya dari INDONESIA ( saja tulis besar-besar supaya tiada lagi pengomen dari seberang yg kata saya  pencuri!) yang menyatakan bahawa Nusantara adalah pusat peradaban dunia yang terawal sekali. namun saya kurang setuju dengan hal ini kerana sebagai seorang islam kita tahu bahawa tamadun terawal yakni tamadun Nabi Adam a.s bermula di timur tengah atau tepatnya di makkah. namun sedikit demi sedikit tamadun ini bergerak ke Nusantara dengan perpindahan dan perpecahan anak cucu Adam sehinggalah membentuk Tamadun kuno Nusantara yang sehingga kini masih diselubungi misteri.
 

Saya yakin anda sekalian akan  kagum dengan pencapaian yang pernah ditorehkan oleh para leluhur kita.  sejarah gemilang ini dibentangkan atau disiapkan oleh leluhur kita dalam pelbagai bentuk antaranya ialah bangunan-bangunan batu yang megah, piramid yang misteri serta batu-batu bersurat dan amalan serta paraktis kebudayaan yang amat menakjubkan. Diantara misteri-misteri yang akan  cuba dibincangkan jikalaupun tidak mampu untuk kita rungkai sekaligus adalah mengenai Candi-candi pelik yang terdapat di pulau Jawa seperti Candi Penataran misalannya.

Misteri senibina Candi Penataran

Ketika Eropa masih berada di zaman kegelapan, ternyata leluhur kita  telah berhasil membangunkan sebuah binaan seperti  Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Penataran. Sebuah karya agung yang sangat rumit jika dipandang dari keindahan seninya, mahupun tingkatan kesulitan pembuatannya. Siapa yang boleh tunjukkan saya ada bangunan di peradaban lain yang lebih indah dengan detail yang rumit di abad itu, sila angkat kaki:)? 

Candi Penataran

Candi Panataran dijumpai pada tahun 1815, tetapi sehingga tahun 1850 ia masih  belum diketahui umum. Penemunya adalah Sir Thomas Stamford Raffles (1781-1826. Raffles bersama-sama dengan Dr.Horsfield seorang ahli Geografi mengadakan kunjungan ke Candi Panataran, dan hasil kunjunganya dibukukan dalam buku yang berjudul “History of Java”yang terbit dalam dua jilid. Jejak Raffles ini di kemudian diikuti oleh para pengkaji lain yaitu : J.Crawfurd seorang pembantu residen di Yogyakarta, selanjutnya Van Meeteren Brouwer (1828), Junghun (1884), Jonathan Rigg (1848) dan N.W. Hoepermans yang pada tahun 1886 mengadakan inventori di kompleks Panataran.

Komplek Candi Penataran


Candi Penataran adalah kompleks candi terbesar dan paling terpulihara  di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Candi ini merupakan candi yang kaya dengan berbagai macam corak relief, arca, dan struktur bangunan yang bergaya Hindu. Terdapat pahatan Kala (raksasa gigi menyeringai), arca Ganesha (dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu), arca Dwarapala (patung raksasa penjaga pintu gerbang), dan juga relief Ramayana adalah bukti bahwa Candi Penataran adalah candi Hindu.
Prasasti Palah yang terdapat di kawasan Candi Penataran menyatakan  bahawa candi ini mulai dibina sekitar tahun 1194, pada masa pemerintahan raja Sirenggra yang memerintah kerajaan Kadiri, dan selesai pada zaman kerajaan Majapahit.


Misteri relief di candi Penataran

Keunikan arkitektur bangunan candi yang ada di Nusanatara, khususnya di pulau Jawa adalah bukti akan kehebatan nenek moyang bangsa Melayu Nusantara. Sistem pertanian yang canggih telah ada sejak dahulu kala. Itu belum lagi ditinjau dari kekayaan hasil perlombongannya. Karya agung seperti candi lengkap dengan arca dan reliefnya hanya dapat dihasilkan oleh sebuah bangsa dengan kebudayaan yang tinggi. Dan bangsa dengan kebudayaan yang tinggi  sudah pasti memiliki kekuatan militeri yang unggul.Mari kita perhatikan relief yang terdapat di Candi Penataran ini. Ada sebuah pertempuran diantara pasukan yang boleh digambarkan berasal dari bangsa Nusantara, dan yang satu lagi adalah pasukan yang berpakaian mirip dengan bangsa Amerika, seperti  bangsa-bangsa Aztec dan Maya.



Tidak percaya? Baiklah. Sekarang cuba kita bandingkan pakaian  pasukan yang mirip orang Amerika tersebut dengan gaya pakaian  orang-orang suku Aztec dan Maya yang berasal dari benua Amerika.


Apakah kemiripan ini hanyalah kebetulan? Baiklah. Mari kita tengok detail dari relief ini. Silakan perhatikan baik-baik pahatan yang dilingkar merah.

 Apakah benda yang terpahat bercabang tiga tersebut? Ya!! ia  menyerupai tanaman kaktus. Bandingkan dengan foto tanaman kaktus di sebelahnya. Mirip bukan? Masalahnya, kaktus berasal dari mana ya? Adakah di wilayah Nusantara pada waktu itu telah ada tanaman kaktus? Jawabnya tidak! Tanaman kaktus hanya ada di benua Amerika! Masih berfikir bahwa itu hanyalah kebetulan yang dibuat-buat? Mari kita lihat foto-foto di bawah!

Lihat relief wajah makhluk dengan lidah menjulur yang ada di Candi Penataran! Bandingkan dengan arca kepala dan lidah menjulur yang ada di Tlaltechutli, Mexico City! Adakah wujud persamaan di sana? Bandingkan juga dengan topeng Rangda ala Bali.Masih kurang yakin? Nah, gambar di bawah ini boleh membungkam ketidakyakinan orang-orang kita yang sangat skeptis ni. Perhatikan kedua gambar di bawah .


Foto di sebelah kiri adalah arca Dwarapala (raksasa penjaga pintu gerbang) yang berada di Candi Penataran. Akan tetapi di manakah asal usul “arca Dwarapala” pada foto sebelah kanan? Jawabnya terletak di kompleks kuil Chichen Itza peninggalan suku Maya, yang sekarang terletak di semenanjung Yucatan, Amerika Tengah. Bukankah foto ini menunjukkan kesamaan yang luar biasa hebat?Bukti lainnya ada di foto-foto berikut.


Foto pertama adalah “piramid” yang terdapat di Candi Sukuh yang terletak di desa Karanganyar, kabupaten Surakarta, Jawa Tengah. Foto disebelah adalah piramid suku Aztec yang terdapat di Tenochtitlan, Mexico. Ini menunjukkan adanya kaitan  antara kedua peradaban tersebut. Selain itu masih banyak relief lain di Candi Penataran yang menggambarkan orang-orang yang “diduga” berasal dari peradaban bangsa lain.


Sangat banyak relief yang menunjukkan bangsa asing yang terpahat disana. Pahatan-pahatan  tersebut selalu digambarkan sebagai sebuah bangsa yang  seolah-olah takluk kepada satu bangsa lain yang lebih berkuasa di Candi Penataran.Sayangnya sebahagian relief ada yang sudah rosak, namun untungnya beberapa bahagian masih dapat dikaji.
 

 Pada relief dibawah ini terlihat ada tiga orang di belakang orang yang sedang duduk, dan di depannya ada dua orang yang sedang menyembah. Kalau diperhatikan dengan jelas, orang yang paling kiri seperti orang yang berpakaian dari suku bangsa Han , kemdian di depannya mirip orang yang tergambar di Angkor wat [orng mon khmer], dan di depannya  mirip orang dari tamadun Maya, Inca atau Copan yang berasal dari Amerika Latin. Sedangkan salah satu yang berkupiah di depan [paling kanan sekali] seorang yang bertutup kepala seperti orang semitik atau juga Assyrian. Dari gambar ini kita boleh perkirakan bahawa yang disembah adalah yang duduk di tengah dan tiga orang yang berdiri di belakang yang duduk adalah pengawalnya.

Dari gambar di bawah, terlihat ada dua relief yang memperlihatkan seseorang yang  memakai songkok . Pakaian seperti ini boleh kita temui di daerah Turki, India hingga  Pakistan.


Pada relief di bawah terlihat tiga orang yang bukan berpakaian ala kerajaan kita, posisi mereka menyembah dan duduk di bawah, sekilas pandang seperti cara berpakaiannya  orang Mesir kuno.

Siapakah mereka dan apa mereka buat di sini? Setelah diamati dengan lebih jelas, relief tersebut dipercayai adalah gambaran dari tiga orang wanita. Perkiraan ini adalah karana  dalam relief tersebut tidak berjanggut.Kalau dianggap wanita Jepung ataupun Korea ada ketidaksamaan yang terletak di model  rambut dan jika dikatakan mirip serban dari India, maka biasanya yang menggunakan adalah laki-laki yang selalu digambarkan berjanggut.Pelik bukan releif ini. Namun apa yang pasti tidak ada mana-mana suku kaum di Nusantara terutama kaum Melayu yang berpakaian begitu.

Dari ketiga gambar di atas hampir mirip dengan relief-relief yang ada di candi Penataran. Jadi dapat diperkirakan bahawa relief itu berkemungkinan besar adalah  wanita Mesir.

Pada relief-relief yang berada di tingkat dua bangunan Sitihinggil yang ada di Candi Penataran sangat jelas menunjukkan diorama penaklukan suatu bangsa yang mirip dengan bangsa Indian Amerika.
Dapat dilihat bahawa leluhur Nusantara berhasil mengambil alih salah satu kereta berkuda dan memanah ke arah lawan. Namun peliknya Orang Amerika tidak ada kereta kuda kerana teknologi roda tidak wujud di sana sehinggalah kedatangan Sepanyol. Jadi puak apakah yang mirip dengan orang Indian tersebut?
Relief ini dikatakan menggambarkan bahawa leluhur Nusantara berhasil menusuk panglima dari bangsa Indian di benua Amerika. Mungkinkah kereta kuda itu kepunyaan leluhur kita yang dibawa ke sana?
 
Menurut pemerhatian pengkaji Indonesia relief ini menunjukkan bala bantuan Indian terburu-buru dan berlari menuju ke medan perang. Alasannya adalah terlihat cara mereka berpakain adalah seperti orang Indian terutama pada head gear mereka.
Dalam releif ini terdapat pasukan gajah perang dalam gerombolan tentera yang dikatakan sebagai Indian tersebut. Persoalannya adakah ianya betul-betul tentera Indian kerana Gajah tidak wujud di Amerika selepas kepupusan Mammoth beribu tahun dahulu. Mungkin juga releif yang dikatakan sebagai orang Indian ini adalah orang dari suku Mon Khmer kerana kita dapat lihat head gear yang sama pada releif di angkor wat. Mungkin peperangan ini adalah diantara Kemboja dan Jawa? Namun apa yang masih menjadi misteri adalah sememangnya terdapat sebuah releif malahan patung berbentuk gajah moden di Copan Amerika selatan tempat lahirnya tamadun Mayan Copan yang misteri ini. Jadi adakah berkemungkinan leluhur kita pernah sampai ke Copan dan memperkenalkan gajah kepada mereka? wallah hua'lam.

Relief Gajah yang terdapat di Candi Penataran
Relief dan gambar Gajah di atas terdapat di daerah Copan – Honduras yang sejenis dengan yang digambarkan leluhur kita di Candi Penataran; menurut para ahli di Amerika, gajah sudah pupus 6500 tahun yang lalu.

Pertanyaannya adalah: “Adakah leluhur kita sudah mempunyai peradaban pada 6500 tahun yang lalu?”. Menurut saya ianya tidak mustahil,  bahkan mungkin lebih tua dari itu.
Relief  prajurit dari benua Amerika yang terdapat di Candi Penataran. Cara berpakaian mereka tak ubah seperti cara pakaian tentera Mayan.
Patung bangsa Maya dari Kerajaan Copan yang sekarang terletak di Honduras.
 







Pada relief dibawah kita juga dapat melihat satu manusia yang bertutup kepala tapi tidak menunjukkan berasal dari Nusantara. Mungkin ini raja bangsa Indian?





Bukti-bukti awal dari misteri yang ada di Candi Cetho, Candi Sukuh dan Candi Penataran ini sejajar dengan teori-teori yang dinyatakan oleh Profesor Arysio Nunes dos Santos dari Brazil yang menyatakan bahwa Atlantis itu benar-benar ada, dan berada di Nusantara. Prof. Arysio Nunes dos Santos, seorang geologis dan Ahli fizik nuklear telah menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk membuktikan dari catatan Plato tentang keberadaan peradaban Atlantis,semua hasil penelitiannya mengarah ke Nusantara, sebagai anak bangsa Melayu Nusantara adakah kita hanya boleh diamkan diri tanpa mengkaji hasil pengkajian kelas dunia tersebut ?

 
Setelah mengamati penjelasan diatas, apakah benar bahwa leluhur Nusantara pernah berhubung dengan bangsa-bangsa di seantero dunia? Kemudian apakah leluhur Nusantara berhasil menapakkan kaki  di benua Amerika atau bangsa Amerika yang pernah mengunjungi Nusantara? Faktanya adalah tidak pernah ada catatan sejarah yang menjelaskan bahwa bangsa Amerika memiliki tradisi maritim yang hebat. Sebaliknya, leluhur Nusantara adalah pelaut-pelaut ulung. ini belum lagi saya bincangkan mengenai persamaan dari segi Budaya Naga dalam masyarakat nusantara dengan masayarakat aztec dan Maya di amerika selatan. Malahan dari sudut bahasa sekalipun ada diantara bahasa purba Aztec dan Maya yang mempunyai persamaan dengan bahasa Melayu sebagai contoh perkataan Tanah bagi orang Maya adalah bermaksud kawasan atau jajahan, ianya ada persaman dengan bahasa Melayu bukan? Oleh itu saya tinggalkan topik ini untuk anda fikir-fikirkan. sekian Wallah hua'lam.




kredit: Bayt al-Hikmah Institute Indonesia.
           Atlantis Sunda Land Holistic-Scientific Research Institute.

 
 
 

Isnin, 11 Mac 2013

HUBUNGAN INTELEKTUAL DIANTARA DUNIA MELAYU DENGAN CHINA PADA MASA LAMPAU





 

Salam kepada pembaca yang budiman sekalian. Seperti biasa terlebih dahulu saya ingin memohon maaf kerana sudah lama tidak menulis di sini. Kali ini saya ingin berkongsi dengan anda tentang kajian yang dibuat oleh penyelidik kita tentang ilmu atau intelek serta intelektual atau ilmuan Melayu yang mempunyai hubungan dengan negeri China. Hasil kajian ini membuahkan sesuatu yang menakjubkan kerana kita dapat membuktikan bahawa keintelektualan bangsa Melayu juga setaraf dengan tahap keintelektualan bangsa lain seperti China, hinggakan ramai cendekiawan Cina yang datang untuk menuntut dengan ilmuan Nusantara.

 

Terdapat banyak penulisan tentang kedatangan rombongan atau wakil dari China ke kerajaan-kerajaan di Nusantara (tak kisah lah Nusantara ni bahasa Jawa ke apa) ini pada masa lampau. Kebanyakan penulisan ini masih lagi dalam bentuk asal yakni tulisan Cina klasik dan belum lagi diterjemahkan. Manakala ada juga yang telah dikaji dan diterjemah oleh para pengkaji dari Jepun dan China sendiri namun kebanyakannya tidak boleh di dapati dan tidak pernah dilihat oleh para pengkaji tempatan kita. Apa yang para pengkaji kita dapat hanyalah judul-judulnya daripada makalah Shinohara (1988). Dalam penulisan ini kita banyak memanfaatkan maklumat-maklumat yang disampaikan menerusi rujukan sekunder tentang rekod biografi-bibliografi intelektual ini.

 

Kesukaran ditambahkan lagi oleh ketiadaan langsung rekod bertulis yang sama untuk zaman awal ini di dunia Melayu. Yang dapat hanya sedikit adalah dari prasasti (batu bersurat) dalam beberapa kerajaan Melayu tua, seperti Funan-Chenla, Campa, Sriwijaya dan Jawa Kuno. Prasasti-prasasti ini pula selalunya hanyalah tentang hal-hal keistanaan, tiada langsung setanding dengan rekod biografi-bibliografi intelektual. Bagi para pengkaji yang ingin teruskan juga kajian terhadap isu ini, seperti yang di nyatakan di atas, mereka terpaksa bergantung kepada rujukan-rujukan sekunder terhadap rekod-rekod biografi-bibliografi intelektual yang disediakan khusus untuk merekodkan kegiatan semua intelektual yang masuk-keluar dari Cina dan India.


 

Daripadanyalah, sedaya mungkin, para pengkaji tempatan telah mengembangkan perbincangan berkenaan hubungan intelektual awal dunia Melayu-Cina. Tentulah beberapa maklumat yang tertera di dalam rekod-rekod biografi-bibliografi intelektual tersebut merangkumi juga beberapa intelektual yang masuk-keluar dari Cina dan alam Melayu. Dibawah di sediakan jadual keluar-masuk intelektual dari Cina dan India.

 

Asal\Tahun
25-220M
220-316M
317-420M
420-589M
India
4
4
17
22
An-hsi (Parsi)
2
3
Yueh-chih
2
3
2
Selatan/Melayu
2
3
6
6
Lain-Lain
2
2
4
Jumlah
10
15
27
32
Penuntut Cina ke India
3
51
89

 

Jadual di atas menunjukkan bahawa sehingga tahun 590M, seramai 143 intelektual China telah datang ke India untuk menuntut agama Buddha. Tiga per empat intelektual China pertama yang datang ke India adalah Chu Shi-hing, Fa-ling, Chi-I dan Ho-yun, seperti yang dilaporkan oleh I-Tsing dan diulangi oleh Samuel Beal. Chavannes pula melaporkan bahawa I-lang, Chih-ngan, I-hsuan dan Taolin singgah dahulu di Lang-chia-shu (Langkasuka) sebelum meneruskan perjalanan ke India. Intelektual yang akan kita bincangkan di sini, iaitu Shih Fa-Hian yang tersadai di Jawa pada November 413M hingga April 414M tergolong dalam kumpulan 51 intelektual seterusnya dalam jadual ini. Siapakah 50 intelektual yang lainnya?

 

 Kebanyakan jalan yang mereka pilih untuk datang ke India dan pulang semula ke China adalah menerusi jalan darat Asia Tengah. Jika ini jalan yang mereka pilih, maka tidaklah boleh dikatakan bahawa mereka memiliki hubungan intelektual dengan dunia Melayu, sebab mereka tidak langsung singgah ke dunia Melayu. Namun, terdapat juga diantara mereka yang memilih jalan pulang menerusi jalan laut melintasi Asia Tenggara, seperti pilihan Shih Fa-hian. Mereka ini ada berhubungan intelektual dengan dunia Melayu, itupun jika ada aktiviti intelektual dilaksanakan. Tidak pula kita jumpa adanya yang memilih jalan darat melalui Indocina untuk pulang ke China.

 

Walaupun mereka mengetahui boleh mudik dari Funan-Chenla menerusi sungai Mekong (Lanchangjiang) sampai ke China. Juga tidak kedengaran adanya yang memilih jalan pulang menerusi jalan darat Asia Tengah selepas datang menerusi jalan laut Asia Tenggara. Mungkin disebabkan mereka juga maklum bahawa betapa bahayanya jalan Asia Tengah yang bergunung-ganang dan banyak perompak. Jalan pergi-balik yang kedua popular adalah menerusi jalan laut Asia Tenggara. Mereka yang menggunakan jalan ini akan berhubungan langsung dengan dunia Melayu, dan berkemungkinan melakukan hubungan intelektual dengan intelektual-intelektual dunia Melayu.

 

Jadual diatas juga menunjukkan bahawa seramai 84 intelektual luar telah masuk ke China untuk mengembangkan agama Buddha. Dua orang daripada empat intelektual pertama yang datang dari India ke China tersebut mungkin bernama Chih-lou-Chia-ch’ien dan Yen Fa-t’iao. Dua intelektual pertama yang datang dari An-hsi (Parsi) tersebut adalah An Shih-Kao dan An Hsuan. Manakala dua intelektual pertama yang datang dari Yueh-chih tersebut adalah Dharmaraksha dan Lokashshema. Ini diikuti oleh ramai lagi intelektual selepas mereka. Ini juga bermaksud ada dikalangan intelektual ini membawa bersama mereka puluhan malahan ratusan karya-karya yang menjelaskan agama Buddha dari pelbagai aspek ke China.

 

 Perkara yang paling menarik adalah, sehingga tahun 590M, seramai 17 intelektual Melayu juga turut serta dalam misi pengintelektualan China ini. Jika dihalusi maklumat tentang semua kerajaan yang ada di selatan China sehingga tahun 590M, tentulah kita tahu bahawa intelektual-intelektual tersebut tentunya datang dari Funan, Chenla, Campa, Chih tu, Pan pan, Sriwijaya mala dan mungkin Jawa Kuno. Apa yang kita mahu tumpukan adalah, bagaimanakah boleh diperolehi maklumat berkenaan 17 intelektual Melayu yang masuk ke China untuk mengembangkan agama Buddha? Adakah mereka benar-benar berbangsa Melayu, atau hanyalah merupakan intelektual India yang bertugas di dalam Kerajaan Melayu? Apakah judul karya-karya yang mereka bawa? Adakah mereka berkarya? Apakah institusi tempat mereka bertugas di dunia Melayu dan China?

 

2. Shih Fa-Hien dan Golongan Intelektual Jawa

Sekitar tahun 249-254M, di Louyang, Dharmakala seorang intelektual India Tengah, menerjemahkan Mahasamghika-vinaya-hrdaya ke bahasa Cina. Kemudiannya, Dharmakirti ( bukan Dharmakhirti Suvarnabhumi) intelektual Parthia, menterjemahkan Dharmagupta-karman. Bhiksupratimoksa juga diterjemahkan pada masa yang sama. Kesusasteraan inilah yang mendorong Shih Fa-Hien untuk memulakan pengembaraan ke India pada tahun 399M. Beberapa tahun selepas itu, iaitu pada tahun 404M, Punyatara, intelektual dari Kasmira, bersama Kumarajiva, intelektual Kucha, menterjemahkan Sarvastivada-vinaya, namun tidak tamat sebab Punyatara meninggal dunia selepas kerja terjemahan siap sepertiga. Tugasnya disambung oleh Dharmaruci, intelektual Kucha, yang  bekerjasama dengan Kumarajiva.

 

Pada tahun 410M, Buddhayasas menterjemahkan Dharmagupta-vinaya. Tatkala Shih Fa-Hien kembali ke Cina pada 414M, beberapa daripada buku-buku ini turut dibawanya bersama. Namun beliau lebih dikenali kerana menerjemahkan Mahasamghika-vinaya bersama Buddhabhadra, intelektual Kapilavastu, pada tahun 418M. Buddhabhadra juga menterjemahkan Avatamsaka-sutra pada tahun 418M. Kemudiannya, Buddhajiva, intelektual Kasmira, menerjemahkan Mahisasaka-vinaya pada tahun 424M, empat tahun selepas kematian Shih Fa-Hien. Begitulah serba sedikit latarbelakang keintelektualan di zaman Shih Fa-Hien, tetapi, apakah kaitannya maklumat di ini semua dengan golongan intelektual Jawa? Inilah yang kita akan cuba hipotesiskan di bawah.
 
 

Di dalam catatan perjalanannya, sekitar Ogos 413M, Shih Fa-Hien, sewaktu ingin kembali dari India ke China, beliau menumpang sebuah kapal perdagangan. Selepas 3 hari belayar, beliau dan 200 penumpang kapal tersebut dilanda ribut. Mereka dilanda ribut selama 13 hari dan tersadai di sebuah pulau. Tidak diketahui apakah nama pulau ini. Mereka kemudian mengambil bekalan baru dan terus belayar tanpa arah tujuan yang tertentu menuju timur. Selepas 74 hari belayar, mereka tersadai di Yavadvipa (mungkin Jawa), iaitu sekitar November 413M.

 

Shih Fa-Hien menetap selama 5 bulan di Jawa dan belayar semula dengan kapal perdagangan yang lain ke Cina pada April 414M. Beliau sampai di Cina 12 hari kemudian. Sewaktu di Jawa, beliau hanyalah melaporkan bahawa tiada langsung orang yang beragama Buddha di sana. Semua penduduk Jawa beragama Hindu. Masyarakat pulau Jawa hanyalah memeluk agama Buddha sekitar 560M, itupun hanyalah masyarakat Jawa yang menghuni kerajaan Melayu Sailendra, yang dikatakan warisan daripada kerajaan Funan yang dikalahkan oleh kerajaan Chenla.

 

Tinggalan utama masyarakat Buddha Jawa adalah Borobodor yang dibina oleh masyarakat Buddha tetapi disiapkan oleh masyarakat Hindu sekitar kurun ke-8M. Lebih seratus tahun sebelum itu, agaknya memanglah benar seperti kata Shih Fa-Hien bahawa tiada langsung masyarakat Jawa yang beragama Buddha. Tetapi, yang peliknya keadaan ini langsung memberi kesan bagi seorang intelektual seperti Shih Fa-Hien dalam catatannya. Adakah beliau tidak melakukan apa-apa aktiviti intelektual sepanjang 5 bulan di Jawa? Ini amat mustahil memandangkan kontroversi mengenai polimik berkaitan kefalsafahan di antara intelektual Hindu dengan intelektual Buddha amat kerap berlaku di India, dimulai oleh Nagarjuna bagi pihak Buddha sekitar kurun ke-2M. yang membantah fahaman falsafah yang dibawa oleh sekurang-kurangnya 6 golongan falsafah Hindu, iaitu Jain, Samkhya, Yoga, Vedanta, Mimamsa dan Nyaya-Vaisesika.

 

Kalaupun sebahagian dari golongan Hindu ini berada di Jawa, pasti Shih Fa-Hien akan terlibat dalam perdebatan falsafah dengan mereka. Kenapa Shih Fa-Hien membisu selama 5 bulan? Kita akan mengemukakan alasan utama kenapa Shih Fa-Hien mendiamkan diri selama 5 bulan di Jawa. Sebelum mengembara ke India pada 399M, Shih Fa-Hien tidak maklum tentang gerakan falsafah Nagarjuna kerana buku-buku Nagarjuna hanyalah diperkenalkan oleh Kumarajiva ke Cina mulai 401M. Inilah juga sebab kenapa Shih Fa-Hien tidak langsung mendapatkan buku-buku Nagarjuna di India.

 

 Kalaupun beliau bertemu dengan buku-buku Nagarjuna, ataupun bertemu dengan pengikut-pengikut Nagarjuna, Shih Fa-Hien mungkin gagal pula menguasai perdebatan berkaedahkan falsafah dan logik, sesuatu yang baru kepada penganut-penganut Buddha di India, apalah lagi kepada pengikut-pengikut Buddha di Cina. Tanpa mentelaah buku-buku Nagarjuna, memanglah Shih Fa-Hien tidak merasakan perlunya beliau melibatkan diri dalam perdebatan dengan golongan falsafah Hindu di Jawa, itupun kalau ada gerakan falsafah Hindu di Jawa.

 

Pengikut-pengikut Nagarjuna membentuk fahaman falsafah yang digelar Madhyamika, disamping tiga yang lain, iaitu Vaibhasika, Sautrantika dan Yogacara. Hipotesis kami ini amat sukar diselesaikan bersebabkan rekod-rekod bertulis di Jawa bertarikh lewat daripada apa yang berlaku pada kurun ke-5 ini. Kalau adapun, belum tentu tepat menyentuh aktiviti intelektual antara Shih Fa-hian dengan intelektual-intelektual Jawa.

 

3. Mandrasena, Penghubung Intelektual Funan dan Cina


Mandrasena bukanlah intelektual asal Funan, sebab beliau adalah asal dari India dan bertugas sebagai penerjemah di Funan. Tugas beliau tentulah menguruskan sebuah atau beberapa buah perpustakaan diraja Funan, disamping menerjemahkan buku-buku India yang berbahasa Sanskrit/Pali ke bahasa tempatan (kun-lun-yu/ bahasa Melayu kuno), dengan bantuan intelektual-intelektual tempatan. Kalangan penyelidik Funan belum mendapat apa-apa maklumat berkenaan bahasa kun-lun-yu atau bahasa Funan ini, sebab tiada langsung ditemui prasasti Funan yang berbahasa selain Sanskrit. Namun, seringkali pula Raja China mengutus duta ke Funan meminta Raja Funan menghantar penerjemah ke China, Madrasena adalah salah seorang daripadanya yang tiba di China pada tahun 503M dengan membawa beberapa puluh buah karya.

 

 Mengikut kajian terhadap Taisho Shinshu Daizokyo (TSD), iaitu himpunan karya-karya Buddha yang masuk ke China dan Jepun, lihat Zahrin Afendi dan Mohammad Alinor (2009), kami mendapati bahawa karya-karya berikut diusahakan terjemahannya oleh Mandrasena :

  1. ?, 453M, Ratnameghasūtra / Pao yün ching (terjemah pada 503M) (TSD 658);
  2. ?, ?, Dharmadhātuprakṛti-asambhedanirdeśa(sūtra) / Fa chieh t’i hsing wu fen pieh hui(ching) (503M) (TSD 310.8);
  3. ?, 470M, Saptaśatikaprajñāpāramitāsūtra / Wen shu shuo pan jo hui (ching), (503M) (TSD 310.46 & TSD 232).

 

Apa yang pasti adalah, karya-karya ini berada di Funan dalam versi asal Sanskrit dan terjemahan kun-lun-yu, dan berada di Cina dalam terjemahan China oleh Mandrasena pada 503M. Pengkaji kita gagal mendapat maklumat lanjut berkenaan dua karya yang pertama itu. Namun, untuk karya yang ke-3, maklumat menunjukkan Mandrasena menerjemahkannya sebanyak dua kali (TSD 310.46 & TSD 232), atau mungkin sahaja seorang lain yang rapat dengannya menerjemahkan yang sebuah lagi itu. Ada 3 lagi terjemahan dilakukan ke dalam bahasa China, iaitu TSD 220.7, TSD 230 dan TSD 233. Apapun, karya yang membicarakan doktrin kesatuan wujud (prajnaparamita) ini merupakan antara beberapa puluh karya lain yang berusaha menjelaskan doktrin tersebut. Doktrin ini mungkin mula diperkenalkan menerusi terjemahan karya-karya Nagarjuna oleh Kumarajiva mulai tahun 401M. Selepas daripada tarikh itu, tentunya intelektual-intelektual China berusaha untuk mendapatkan beberapa karya lain yang menjelaskan apa yang disebut dalam karya-karya Nagarjuna tersebut, termasuklah tentang prajnaparamita. Seperti yang dijelaskan oleh Obermiller (1933), doktrin prajnaparamita tersebut terbahagi kepada 5 tahap, iaitu :

·         Jalan Mengumpulkan Kebaikan/Faedah (Sambhara-marga), yang terdiri daripada 4 cara mengenal penampakan wujud, 4 cara mengenal punca penampakan wujud, 4 cara mengenal boleh hapusnya penampakan wujud, dan 4 prinsip jalan;

·         Jalan Latihan (Prayoga-marga);

·         Jalan Intuisi (Darsana-marga);

·         Jalan Penumpuan Perhatian (Bhavana-marga);

·         Jalan Puncak (Asaiksa-marga).

Kita pasti boleh menunjukkan bahawa doktrin ini diajarkan, kalaupun tidak berkembang dengan baik, di Funan dan China. Di China, doktrin ini agak berkembang baik kerana dari semasa ke semasa karya-karya yang menjelaskannya diusahakan dicari lalu diterjemahkan.

 

4. Samghapala, Penghubung Intelektual Funan dan China


Samghapala juga adalah intelektual berkelahiran India yang bertugas sebagai penterjemah di Funan. Nampak seolah-olah beliau adalah pembantu kepada Mandrasena di Funan, kerana Raja Funan kemudiannya mengarahkan beliau untuk membantu Mandrasena di Cina. Beliau tiba di China pada tahun 506M. Beliau juga membawa karya-karya yang berada di Funan ke China, lihat Zahrin Afendi dan Mohammad Alinor (2009). Diantara yang beliau terjemahkan di China adalah :

·         460M, Aśokarājasūtra / A-yu-wang ching (terjemah pada 512M) (TSD 2043);

·         Karmāvaraṇapratipraśrabdhi(sūtra) / P’u-sa tsang ching (517M) (TSD 1419);

·         470M, Saptaśatikāprajñāpāramitāsūtra / Wen shu shih li so shuo mo ho pan jo po lo mi ching (TSD 233);

·         457M, Sarvabuddhaviṣayāvatārajñānalokālaṃkārasūtra / Tu i ch’ieh chu fo ching chieh chih yen ching (TSD 358);

·         Aṣṭabuddhaka(sūtra) / Pa chi hsiang ching (TSD 430);

·         Mahāmāyūri(vidyārājñī)-(sūtra) / K’ung ch’iao wang chou ching (TSD 984);

·         Anantamukhasādhakadhāraṇī(sūtra) / She li fu t’o lo ni ching (506M) (TSD 1016);

·         470M, Mañjuśrīparipṛcchā(sūtra) / Wen shu shih li wen ching (518M) (TSD 468);

·         460M, Daśadharma(ka)(sūtra) / To ch’eng shih fa ching (TSD 314);

·         Upatisya, ?, ? / Chieh t’o tao lun (515M) (TSD 1648);

·         Da cheng bao yun jing (TSD 659);

·         / Erh shih pa yeh ch’a ta Chun wang Ming hao (DZ 736).

 

Senarai di atas menunjukkan bahawa karya berjudul Saptaśatikāprajñāpāramitāsūtra, yang mengandungi doktrin prajnaparamita itu sekali lagi diminta kepada Samghapala untuk diterjemahkannya. Karya Asokarajasutra yang dikarang pada 460M, iaitu sekitar 700 tahun daripada zaman Asoka, dan diterjemahkan ke China oleh Samghapala pada tahun 512M, boleh sahaja menunjukkan bahawa cara kepemimpinan dan kepengurusan Raja Asoka dikaji di Funan dan di China. Kajian ini ditumpukan oleh Shaharir (2008) bagi mendapatkan teori-teori kepemimpinan dan kepengurusan Melayu, yang setakat ini menunjukkan bahawa teori kepemimpinan Melayu tertua adalah yang dinukilkan pada sebuah batu bersurat bertarikh 1010S/1088M dalam bahasa Melayu Campa! Teorinya digelar cakravantin, dan model teori ini yang pertama adalah Raja Asoka. Yang sepatutnya dijawab, adakah cakravantin juga dihayati di Funan, yang dimaklumi terkenal dengan model kepemimpinan bergelar rajadewa, dan di China? Sudah tentu ya.

 

5. Paramartha, Berhubung Intelektual Funan dan China


Seperti juga Mandrasena dan Samghapala, Paramartha juga adalah berkelahiran Ujjini, India, dan datang bertugas sebagai penerjemah di Funan mulai sekitar tahun 545M. Beliau dibantu oleh intelektual-intelektual tempatan, salah seorang daripadanya bernama Subodhi. Dua nama intelektual tempatan yang lain adalah Brahmadatta dan Brahmasimha, namun dua mereka ini bertugas sebagai doktor perubatan diraja. Paramartha kemudiannya diminta oleh Raja Rudravarman, atas permintaan Raja Cina, untuk menyambung kerja-kerja terjemahan yang dilakukan oleh Mandrasena dan Samghapala. Lalu beliau membawa karya-karya yang berada di Funan ke China. Beliau membawa sejumlah 240 karya ke China pada tahun 546M, lalu menerjemahkan sejumlah 76 buah daripadanya.

 

Dalam senarai 37 yang berjaya diperolehi sekali lagi kita bertemu dengan judul karya yang mengandungi doktrin prajnaparamita, iaitu Vajracchedikāprajñāpāramitāsūtra yang diterjemahkan oleh Paramartha sebagai Chin kang po jo po lo mi ching pada tahun 569M. Memang ini menunjukkan doktrin prajnaparamita berkembang luas di Funan dan China sekitar kurun ke-6M. Pengkaji kita sebenarnya memperoleh beberapa karya dalam senarai di atas dalam bentuk terjemahan Inggeris, Perancis dan Jerman, untuk di telaah. Shaharir telah mentelaah karya Nagarjuna berjudul Arya Ratnavali (Rājaparikathāratnamālī) bagi menunjukkan wujudnya teori kepemimpinan dan kepengurusan Buddha yang diserap masuk ke Funan, dan mungkin juga China. Suatu hal lagi yang kerap di tumpukan perhatian adalah karya-karya berbentuk perbahasan kefalsafahan. Ini boleh digali daripada karya-karya ahli falsafah seperti Asvaghosa, Nagarjuna, Aryadeva, Asanga, Vasubandhu dan Ishvara Krisna dan Dignaga.

 

 Amat memeranjatkan sebenarnya karya-karya Dignaga berada di Funan, dan akan ditunjukkan di bawah sebagai juga berada di Sriwijaya, kerana fakta ini mencabar kefahaman sebelum ini bahawa tiadanya minat yang agak mendalam terhadap epistemologi dan logik dikalangan intelektual-intelektual awal di Funan dan Sriwijaya. Kami katakan “mendalam” kerana karya-karya Dignaga dan Dharmakirti (seorang lagi intelektual epistemologi dan logik) adalah karya-karya yang begitu teliti membahas pelbagai isu berkaitan falsafah pengetahuan. Perbahasan mereka setaraf perbahasan yang dilakukan oleh Plato dan Aristotle, al-Farabi dan Ibn Sina, Thomas Aquinas dan Roger Bacon, dan Immanuel Kant dan Hegel. Contohnya, kami akan membincang sedikit berkenaan epistemologi dan logik yang dibawakan oleh Dignaga.

 

Karya terpenting dihasilkan oleh Dignaga bertajuk Pramanasamuccaya, namun karya ini tidak  dikesan wujud di Funan, Campa dan Sriwijaya. Karya ini sebenarnya adalah himpunan karya-karya beliau yang lainnya dalam bidang epistemologi dan logik, sejumlah 14 buah, Alambanapariksa dikesan wujud di Funan, manakala Upadayaprajnaptiprakarana, Samanyalaksanapariksa dan Nyayamukha dikesan wujud di Sriwijaya (akan dibincang kemudian). Apa yang dibincangkan oleh Dignaga? Dalam kesemua karya epistemologi dan logiknya, Dignaga sebenarnya membahas isu-isu yang timbul dalam usaha memahami bagaimana seseorang manusia mendapat pengetahuan. Apakah sebenarnya pengetahuan itu? Adakah benda luar fikiran itu sebenarnya terpisah atau tercantum/berhubung dengan juzuk pengetahuan yang dihasilkannya, yang diminati oleh fikiran manusia? Menariknya, Dignaga membuat sorotan terhadap semua pandangan epistemologi dan logik di India sebelumnya, iaitu teori-teori pengetahuan yang dihasilkan oleh golongan-golongan Nyaya, Vaisesika, Samkhya dan Mimamsaka. Sorotan ini seolah-olahnya berbentuk sejarah perkembangan epistemologi dan logik di India.

 

6. Sejumlah 1350 Buku Campa yang Dirampas oleh Liu Fang pada 605M


Sukar sebenarnya untuk kita menerima fakta bahawa adanya apa-apa “perhubungan intelek” dalam apa-apa peperangan. Namaun, itulah yang akan kita bincangkan di sini, iaitu adanya “perhubungan intelektual” dalam peperangan yang melibatkan China dan Campa. Tatkala segerombolan tentera Cina yang diketuai oleh Liu Fang menyerang Campa pada tahun 605M, yang mengakibatkan kekalahan dipihak Campa dan Raja Shambhuvarman (mati pada tahun 629M) melarikan diri keseberang laut, Liu Fang kemudiannya merampas salasilah bertinta emas yang menukilkan maklumat 18 Raja yang memerintah Campa sebelum Raja Shambhuvarman dan sejumlah 1350 buku ajaran agama Buddha yang ditulis dalam bahasa Campa / Kun-Lun berabjad Sanskrit yang diikat dalam 546 berkas.


 

 Yang menjadi isunya di sini adalah, ada laporan yang mengatakan bahawa buku-buku ini dimusnahkan oleh Liu Fang, dan ada juga laporan yang mengatakan buku-buku ini dibawa pulang ke China dan diminta Hsuan Tsang melakukan terjemahan terhadapnya. Namun, setelah beberapa tahun dapat dikesan kewujudan buku-buku ini, kita tidak berolah apa-apa maklumat, walaupun mengaitkannya dengan Hsuan Tsang. Begitu juga dengan maklumat yang baru sahaja di jumpai, seperti yang dilaporkan dalam abstrak, kajian belum mendapat apa-apa maklumat tambahan berkenaan Fo-Che, selain mengetahui bahawa beliau adalah seorang pemuzik Campa yang terbaik. Beliau diminta datang ke China dan Jepun untuk membuat persembahan dan mengajar tentang muzik Campa di beberapa sekolah muzik disana.

 

7. I-Ching, Penghubung Intelektual Sriwijaya dan China


Para pengkaji kita telah mengetahui agak lama juga berkenaan maklumat yang mengatakan I-Ching menghabiskan masanya selama 14 tahun melakukan penerjemahan di Sriwijaya. Sebelum melakukannya, beliau sempat berguru kepada 4 intelektual Buddha di Sriwijaya dan India. Salah seorang daripada gurunya, yang berada di Sriwijaya, bernama Sakyakirti yang mengarang buku bertajuk Hastadanda Sastra, sebuah buku undang-undang. Buku ini diterjemahkan oleh I-Ching sebagai Shou chang lun (TSD 1657) pada tahun 711M. Oleh sebab I-Ching menjangkakan bahawa beliau tidak mampu melakukan penerjemahan seorang diri, beliau kembali ke China untuk menjemput 4 intelektual yang lain membantu beliau melakukan tugas-tugas penerjemahan. Sungguh banyak sekali karya yang patut beliau terjemahkan, malahan mencapai ribuan judul. Maklumat ini sebenarnya dibiarkan sahaja statik tidak berkembang, sekurang-kurangnya untuk penyelidikan di alam Melayu, sehinggalah pengkaji kita berjaya mendapatkannya.
 

 

Sebenarnya senarai tajuk-tajuk yang diterjemah oleh i-ching terlalu banyak maka ia tidak akan dipaparkan dalam penulisan ini. Jika mahu juga anda boleh lihat Zahrin Afendi dan Mohammad Alinor (2009). Oleh kerana setakat ini pengkajian yang dibuat hanyalah menumpukan perhatian kepada karya-karya epistemologi dan logik, malah kita masih mencari-cari karya-karya ini sebab tidak semua yang berjaya dibawa balik, makanya tidaklah banyak perkara yang mahu di tambahkan bagi membincang senarai penulisan I-Ching tersebut. Apa yang pasti bahawa 3 lagi karya Dignaga yang utama tentang epistemologi dan logik berada dalam senarai I-Ching.

 

Kesimpulan

Bagi mengembangkan lagi kepustakaan keintelektualan Alam Melayu saya berharap agar kajian-kajian lanjut diusahakan bagi mendapatkan semua karya-karya yang telah di senaraikan, malah banyak lagi karya yang tidak disenaraikan. Secara tidak langsung, ini akan menunjukkan bahawa tamadun-tamadun manusia yang awal di Asia Tenggara, seperti Funan, Campa, Sriwijaya dan Jawa sebenarnya memiliki kepustakaan pengetahuan tentang segala perkara yang memungkinkan mereka mengendalikan kehidupan mereka seharian. Juga, secara langsung, kepustakaan ini dikongsi bersama dengan tamadun-tamadun timur jauh, seperti China, Korea dan Jepun.

 

 Korea dan Jepun sebenarnya pada masa yang lebih kurang sama memanfaati kepustakaan pengetahuan yang masuk ke China. Namun, apa yang jauh lebih penting difikirkan bersama adalah, apakah kepustakaan pengetahuan yang berlegar di Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Timur dan Asia Tengah ini mampu digunakan untuk menerbitkan konsep-konsep penting dalam bidang Sains dan Teknologi, atau apa sahaja nama tempatan lain yang lebih sesuai menggantikan kedua-dua istilah Latin (Scientia) dan Greek (Techne) tersebut, bagi memperbaiki atau mencabar konsep-konsep utama dalam perkembangan Sains dan Teknologi Barat Moden/Pascamoden. Konsep-konsep seperti ruang, masa, nombor, pernyataan, benar/palsu, dan lain-lainnya. Sudah tiba masanya kita tukar perkataan-perkataan latin tersebut dengan perkataan Melayu yang asli supaya terlihat bahawa ilmu Melayu itu ilmu yang bertaraf antarabangsa, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan ilmu-ilmu barat.Sekian wallah hu a’lam.

 

Kredit; DR. Shaharir Mohd Zain

 

Rujukan

Fa-Hien. 1884/1983. Fo-kwo-ki (Travels of Fa-Hien), dalam Beal, S. Si-yu-ki (Buddhist Records of the Western World. New Delhi : Oriental Reprint. ms xxiii-lxxxiii.

Fa-Hien. 2002. The Journey of the Eminent Monk Faxian, terj. oleh Li Rongxi, dalam Lives of Great Monks and Nuns. BDK English Tripitaka. Berkeley : Bukkyo Dendo Kyokai dan Numata Center Buddhist Translation and Research. ms 155-214.

Hattori, M. 1968. Dignaga, On Perception : Being the Pratyaksapariccheda of Dignaga’s Pramasamuccaya from the Sanskrit and Tibetan versions. Cambridge : Harvard University Press.

Obermiller, E. 1933. The Doctrine of Prajna-paramita as exposed in the Abhisamayalamkara of Maitreya. Acta Orientalia 11 : 1-131 & 334-354.

Shaharir Mohd Zain. 2008. Pembinaan Semula Teori Kepemimpinan dan Kepengurusan Rumpun Melayu. Kuala Terengganu : Penerbit UMT.

Shinohara, K. 1998. Evolution of Chan Biographies of Eminent Monks. BEFEO 85 : 305-324.

Xinru Liu. 1988. Ancient India and Ancient China : Trade and Religious Exchanges AD 1-600. New Delhi : Oxford India Press.

Zahrin Afendi Mohd dan Mohammad Alinor Abdul Kadir. 2009. Laporan Penyelidikan tentang Manuskrip Melayu Pra-Islam. JAWHAR 6(2) : 84-102.

Zurcher, E. 1972. The Buddhist Conquest of China : The Spread and Adaptation of Buddhism in Early Medieval China. Vol. I & II. Leiden : E.J. Brill.